Senin, 03 September 2012

Percakapan Ayah dan Sang Anak

Seorang anak bertanya pada ayahnya, “Mengapa Ayah tadi ikut makan bersama tamu? Apakah Ayah lupa kalau hari ini sedang berpuasa?”

Ia terkejut dengan jawaban sang Ayah.

“Ayah tidak lupa. Ayah sengaja berbuka.”

“Ayah pernah bilang, bahwa puasa itu harus karena Allah. Jelas-jelas Ayah berbuka karena ada tamu, mengapa Ayah bilang itu juga karena Allah?” Sang anak melipat dahi, berpikir, tak mengerti.

Dengan tenang, Ayah menjawab kebingungan anak sulungnya. “Ayah hari ini puasa sunnah. Dan Ayah sengaja membatalkan puasa karena Ayah ingin memuliakan tamu Ayah.”

Ayah tahu jawaban itu belum memuaskan rasa penasaran sulungnya. Maka, Ayah pun bercerita tentang sahabat rasul yang ia dapat dari guru ngajinya beberapa waktu yang lalu.

Adalah Salman Radhiyallaahu ‘anhu – seorang sahabat Rasulullah – bertamu di kediaman Abu Darda Radhiyallaahu ‘anhu, yang mana ketika itu Abu Darda Radhiyallaahu ‘anhu sedang berpuasa (sunnah). Abu Darda menyuguhkan jamuan untuk Salman. “Makanlah, saya berpuasa,” katanya. Salman menjawab, “Saya tidak akan makan, jika engkau tidak makan bersama saya.” Akhirnya Abu Darda pun membatalkan puasa dan makan bersama Salman. Keesokan harinya, Abu Darda menyampaikan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaih wa sallam tentang kisahnya dengan Salman, dan Rasulullah membenarkan Salman.

“Karena itulah, Ayah sengaja berbuka agar Om Fulan tidak segan memakan apa yang Ayah suguhkan.”

Sejauh itu, sang anak bisa menerima penjelasan ayahnya. Tapi, ada satu hal yang belum bisa ia pahami. “Jika Ayah memuliakan tamu, mengapa Ayah mengusir Om Fulan?”

Kali ini Ayah yang terkejut. Tak pernah ia mengusir seseorang dari rumahnya. Tidak kali ini, tidak juga di waktu-waktu yang lain.

“Ayah memang tidak terang-terangan mengusir Om Fulan, tapi sejak Ayah mengajak shalat berjama’ah di mushala, Om Fulan langsung pamit pulang,“ sang anak menjelaskan.

Ayah tersenyum ringan. “ Ayah tidak bermaksud mengusir Om Fulan, Ayah hanya mengajaknya shalat ketika adzan Dzuhur berkumandang.”

“Ayah bisa saja shalat di rumah, dan tidak harus saat itu juga!” protes sang anak.

“Kamu tahu, pahala terbesar adalah shalat yang dikerjakan di awal waktu, secara berjama’ah, dan bagi kaum laki-laki lebih utama di masjid atau di mushala?”

“Apakah bukan karena Om Fulan tersinggung dan marah? Jangan-jangan dia kapok, tidak mau main ke sini lagi, Yah?” sang anak khawatir.

Ayah kembali tersenyum ringan. “Ayah rasa kekhawatiranmu terlalu berlebihan. Insya Allah Om Fulan baik-baik saja. Ayah kenal baik Om Fulan. Dan satu yang harus kamu ketahui, memuliakan tamu bukan berarti menggugurkan kewajiban kita lainnya kepada Allah. Om Fulan bisa saja shalat di rumah kalau memang dia enggan Ayah ajak shalat di mushala, Ayah tak bisa memaksanya. Ayah mengajak shalat di mushala bukan tidak memuliakan tamu, justru Ayah ingin berbuat kebaikan dengan mengajak tamu Ayah,” panjang lebar Ayah menjelaskan. “Intinya, Om Fulan pamit pulang bukan karena ayah mengusirnya. Insya Allah, dia tidak tersinggung, marah, apalagi kapok silaturrahim ke sini. Barangkali dia ada kepentingan lain, dan sebenarnya sudah dari tadi ingin pulang tapi bingung mencari alasan.“

Sang anak mengangguk, mengerti. Jelas sudah kini semuanya. Dan untuk terakhir kalinya, ia bertanya. “Yah, boleh nda kalau bada’ maghrib nanti teman-temanku main ke sini? Bukan untuk belajar bersama, hanya main saja, sama seperti biasanya.”

“Boleh saja, silahkan!” jawab Ayah. “Tapi kamu tidak lupa mengatakan pada mereka, bahwa bada’ Isya kamu ada jadwal mengaji, kan? Kalau mereka ingin lama, sebaiknya kamu tawarkan untuk datang lain waktu saja. Ayah tidak ingin kamu bolos ngaji. Ajaklah mereka untuk ikut ngaji bersamamu. Kalaupun mereka tidak mau, bukan berarti kamu boleh membolos. Muliakanlah tamumu, tapi jangan sampai kau abaikan kewajibanmu!“

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar